Ketapang Penyumbang Hotspot Terbesar Karhutla di Kalbar
PONTIANAK – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat menjadi perhatian bersama. Maka penting bersinergisitas bagi semua pihak untuk sama sama menanggulanginya.
“Jika pada kejadian di tahun 2015 terjadinya Karhutla terbesar selama 5 tahun terakhir. Itu data menyebutkan seluas 2,6 juta hektare lahan dan sekitar 504.000 orang terutama anak-anak terdampak ISPA. Di samping itu hilangnya keragaman hayati, terganggunya aktifitas ekonomi karena terjadinya pembatalan penerbangan baik internasional maupun domestik dimana terjadi hampir di sebagian pulau besar Indonesia khususnya Sumatera, Jawa dan Kalimantan”, kata Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Polisi Drs Didi Haryono SH MH, saat Rakor Penguatan Pengendalian dan Penanggulangan Karhutla pada Lahan Gambut, di Hotel Kapuas Palace, Pontianak, Kamis (26/09/2019) kemarin.
Kurang lebih Rp. 220 triliun kerugian ekonomi Indonesia akibat Karhutla. Sebab, pada saat itu Provinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu dari enam provinsi penyumbang asap terbesar di Indonesia. Pada 6 Agustus 2019 yang lalu, Presiden Joko Widodo memanggil beberapa pejabat pemerintah daerah termasuk Kalimantan Barat dalam rangka arahan Presiden Republik Indonesia terkait Karhutla di Istana Negara.
“Beberapa penekanan Pak Presiden antara lain, bahwa kejadian Karhutla pada tahun 2015 dan tahun-tahun sebelumnya jangan sampai terulang kembali. Jumlah hotspot harus turun tiap tahunnya, lakukan pencegahan jangan sampai api besar baru bingung dipadamkan,” ujar Didi Haryono.
Disampaikan Kapolda Didi Haryono, bahwa Provinsi Kalimantan Barat memiliki kondisi geografis yang memiliki bentangan 11/6 pulau jawa dengan luas wilayah 146.807,90 kilometer persegi meliputi luas daratan 110.000 kilometer persegi atau setara 74,93 persen terdapat lahan perkebunan dan pertanian, dan juga hamparan lahan gambut yang cukup luas di setiap wilayah Kalimantan Barat. Potensi geografis yang luas ini menjadikan sebuah potensi bagi oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membuka lahan dengan cara membakar.
Sebaran hotspot di Kalbar berdasarkan pengolahan data LAPAN oleh BMKG, menyebutkan hotspot sepanjang bulan Agustus 2019 terdapat sejumlah 7.655 titik di Kalimantan Barat, dimana hotspot terbanyak terdapat di Kabupaten Ketapang yaitu sejumlah 2.126 titik dan Kabupaten Sanggau sejumlah 1440 titik. Sedangkan dari tanggal 1 September sampai dengan 23 September 2019 di Kalimantan Barat terdapat sebanyak 1.5767 hotspot. Kabupaten Ketapang menjadi penyumbang terbesar dengan 8.652 titik.
“Pada 24 September 2019 sampai dengan 25 september 2019 kita bersyukur, karena hampir di seluruh wilayah Kalimantan turun hujan sehingga data menyebutkan hotspot di Kalimantan berkurang secara signifikan menjadi hanya 34 titik api,” ucap Didi Haryono.
Sementara itu Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, SH,.M.Hum, menjelaskan Provinsi ini luasnya sekitar 110.000 kilometer persegi dan mencakup kawasan hutan serta lahan perkebunan yang rentan mengalami kebakaran pada musim kemarau.
Selain memiliki lahan perkebunan dan pertanian, dan Kalbar juga memiliki hamparan lahan gambut yang cukup luas sehingga sangat rawan terbakar apabila memasuki musim kering atau kemarau.
Gubernur Sutarmidji, berujar, ”titik api dua kali lipat banyaknya dibandingkan tahun 2015. Tapi dampaknya tidak sehebat di tahun 2015. Karena, lamanya api berada di satu titik itu juga hitungannya lebih cepat selesai dibandingkan dengan yang di tahun 2015”.***(CS/K65News).
_______________
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS MENDAPAT IZIN TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”


