Meminimalisir Gerakan Radikalisme di Lingkungan Kampus, PMII Untan Laksanakan Dialog Publik
PONTIANAK – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Universitas Tanjungpura (PMII Untan), telah melaksanakan Dialog Publik dengan tema “Meminimalisir Gerakan Radikalisme di Lingkungan Kampus”, di Aula Magister Ilmu Sosial Universitas Tanjungpura Pontianak, Selasa (30/10/2018) kemarin.
Menurut Asroki selaku Biro Media PMII Untan Pontianak kepada Redaksi www.kabar65news.com , Rabu (31/10/2018) pagi, bahwa kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber yaitu, Brigjen, Pol. Ir. Hamli, ME., Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Wadir Intelkam Polda Kalbar Dr. Yusuf Setyadi, SH, M.Hum, dan Dr. Zulkifli Abdillah. M,A, Wakil Sekretaris PWNU Kalabar. Dialog ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai OKP dan Ormas.
Farizal Amir selaku Ketua PMII Komisariat UNTAN, dalama sambutannya menyampaikan, bahwa harus paham bagaimana radikalisme itu, peran mahasiswa sebagai agen of change dan agen of control harus mampu memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara, lebih-lebih dalam melawan gerakan radikalisme di lingkungan kampus.
“Seperti kasus di Riau alat peledaknya di rakit di kampus, tidak menuntut kemungkinan di Universitas Tanjungpura, terjadi hal serupa. Namun, kami siap untuk membackup jaringan radikal di Untan”, ucap Farizal Amir.
Sedangkan Pengurus Cabang PMII Kota Pontianak, Abdul Wasi Ibrahim, menyampaikan dalam sambutannya, mahasiswa adalah objek utama bagi mereka (jaringan radikal), memnfaatkan mahasiswa yang tidak sesuai dengan bangsa Pancasila, seperti yang telah diperingati beberapa hari lalu, yaitu Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2018 yang menyatakan, satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia, sedangkan Pancasila didirikan melalui konsensus bersama. “Kita harus berwawasan yang luas untuk selalu menjaga NKRI”, katanya.
Prof. Dr. H. Thamrin Usman, D.E.A selaku Rektor Untan, membuka langsung acara dialog tersebut, namun sebelum beliau membukanya, ada beberapa hal yang disampaikannya, bahwa kita Negara Kesatuan Republik Indonesia berjumlah 250 juta, seharusnya kita bisa bersatu karena warga luar negeri meniru jejak kita, untuk memajukan Negara, kita tidak perlu keluar negeri cukup kita lakukan yang ada di depan kita di Indonesia ini, disambut dengan tepuk tangan meriah oleh peserta yang hadir.
Brigjen, Pol. Ir. Hamli, ME selaku Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menyampaikan kepada mahasiswa agar jangan sampai terpengaruh oleh kaum-kaum terorisme, terjadinya terorisme terkadang disebabkan oleh faktor ekonomi yang tidak mampu namun ada juga dari kalangan yang sudah mampu bahkan menjadi doktor sekalipun.
“Kenapa BNPT lahir tahun 2010 karena waktu itu ada bom yang meledak, tanggal 23 tahun 2001 bom lewat pesawat yang dilakukan oleh orang Indonesia yang dilakukan oleh Hambali, tahun 2002 bom Bali, barulah di tangkap kelompok ini lalu Polisi membentuk Densus 88”, ungkap Hamli.
Selanjutnya Hamli berkata, bahwa pada 2009 ada anak lulusan SMA yang melakukan bom bunuh diri, peledakan bom itu dikarenakan dijanjikan masuk surga dan di janjikan mendapatkan 72 bidadari, “dia menyebut hukumnya fardu a’in, mereka melakukan karena menurut mereka merupakan fardhu a’in, hal ini lah yang harus kita lakukan untuk mencegah, oleh para mahasiswa, para ulama, dan para dosen, sasaran nya adalah para mahasiswa juga pemuda dan pemudi”, tutur Hamli.
Ditambahkan Hamli, tidak ingin di Untan ini ada berita, bahwa mahasiswa ditangkap karena ulah terorisme, di Suriah lagi ramai, yang lagi konflik sesama agama yang saling berperang disitulah orang-orang terorisme mulai masuk untuk memperkeruh masalah.
“Masjid di Damaskus yang didirikan oleh Bani Umayyah telah di bom karena adanya terorisme. Di Pontianak jangan sampai terjadi, karena konflik akan mengakibatkan pengungsian”,papar Hamli.
Pada bagian lain, Wadir Intelkam Polda Kalbar Dr. Yusuf Setyadi, SH, M.Hum, dalam paparannya menyatakan, bahwa minimnya anggota Polri maka diperlukan kerjasama antara Polri, TNI juga masyarakatnya, terkhusus kepada para mahasiswa untuk menangkal kaum radikalisme ini, khusus di Kalbar ini ada Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPT).
“Melalui inilah Polri selalu berkomunikasi untuk menjaga atau menangkal kaum radikalisme. Polri selalu bermitra dengan tokoh agama juga tokoh masyarakat. Meski di Kalimantan Barat masih aman dengan adanya kaum radikalisme, namun Polri selalu melakukan pengawasan dan pencegahan agar kaum-kaum radikalisme itu tidak berkembang.
Salah satu cara yang dilakukan oleh Polri adalah upaya melakukan pengecekan identitas, jika ada kecurigaan terhadap seseorang, maka akan di evakuasi dan juga bukan menjauhkan mereka dari kita akan tetapi mengajak mereka untuk membaur agar bisa di pantau hingga akhirnya bisa selamat dari radikalisme”, tutup Yusuf Setyadi.
Sedangkan Dr. Zulkifli Abdillah. M,A, dalam paparanya mengatakan, bahwa aksi itu muncul dari pikiran, radikal itu mengarah ke ekstrim, mengapa kampus yang menjadi pebicaraan karena kampus tempat yang straregis untuk merekrut mahasiswa untuk masa yang akan datang.
“Yang menjadi sasaran radikal adalah mahasiswa, gerakan ini dimulai sejak 1991, penyebab terjadinya radikalisme itu karena kurangnya pemahaman dari berbagai persepektif, sehingga kaum radikal itu sendiri merasa dirinya paling benar, nah seharusnya kita bisa memahami perspektif-perspektif yang lain, tidak harus hanya paham satu persepektif saja”,ucap Zulkifli Abdillah.
Agar radikalisme tidak terjadi, lanjut Zulkifli Abdillah, ambil lah persepektif dari para ahli yang lain, tidak hanya satu perspektif saja, untuk menghindari radikalisme, juga menjadi seseorang yang beragama, tidak hanya beragama ikut-ikutan saja, melainkan beragama harus berpengetahuan tentang agama.***(R/K65News).
Gambar : Dokumen Biro Media PMII Untan Pontianak untuk kabar65news.com
Penulis : Adjie Saputra
Editor : Fahrozi
_______________________
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS MENDAPAT IZIN TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”


