Profil Halim H. Anwar: Berawal dari Pengantar Koran, Tumbuh Menjadi Pelopor Media, Seni, dan Ayah yang Sukses

KETAPANG – Dunia pers, penyiaran, dan seni di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, melekat erat pada sosok Halim H. Anwar. Lahir di Ketapang pada 15 Februari 1965 dengan panggilan akrabnya Bung Halim, ia memilih menyertakan nama sang ayah, H. Anwar, di belakang namanya sebagai bentuk penghormatan kepada Ayahnya. Perjalanan hidupnya merupakan bentangan dedikasi yang penuh inspirasi, kerja keras, dan pengorbanan demi keluarga.

Akar kecintaan beliau pada dunia literasi dan informasi bermula dari sebuah perjuangan hidup yang menyentuh. Sejak duduk di bangku SMP, demi membiayai sekolahnya sendiri, Halim kecil bekerja sebagai pengantar koran mingguan lokal di Kalimantan Barat. Siapa sangka, pekerjaan masa kecil yang menuntut keringat itu justru memantik rasa cinta yang mendalam pada dunia jurnalistik. Pengalaman sehari-hari mengantarkan informasi kepada masyarakat membuatnya ‘ketagihan’ hingga membentuk visi besarnya untuk masa depan.
Langkah awalnya di dunia komunikasi publik kemudian dirintis secara profesional sejak dekade 1980-an hingga 1990-an sebagai penyiar andalan di Radio Pemerintah Daerah Ketapang (RPDK), yang kini bertransformasi menjadi Radio Kabupaten Ketapang (RKK). Memasuki era 1990-an hingga 2000-an, kepiawaiannya mengudara berlanjut di jalur swasta, di mana ia bertindak sebagai penyiar sekaligus pengelola di Radio Delta Pawan dan Radio Vinka FM.

Di ranah birokrasi, Ia sempat mengabdikan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Bupati Ketapang. Namun, panggilan perubahan di awal Era Reformasi 1998 membuatnya mengambil keputusan besar untuk mengundurkan diri secara hormat demi terjun sebagai Sekretaris di salah satu Partai Politik.
Kepedulian sosialnya juga mewujud lewat jalur lingkungan hidup dengan mendirikan Yayasan Fitri.
Darah jurnalisme pria yang pernah menjadi koresponden berbagai koran dan majalah terbitan Medan serta Jakarta ini akhirnya mencapai puncaknya pada 19 Desember 2002. Berbekal memori dan cita-cita masa kecilnya saat mengantar koran, ia mendirikan Lembaga Kantor Berita Kalimantan (LKBK). Di bawah bendera LKBK, ia sukses mengembangkan unit usaha strategis, meliputi kantor berita online kabar65news.com, Radio AI Cahaya, serta studio produksi Cahaya Nada Records. Di samping kesibukannya, ia juga seorang sastrawan yang aktif menulis sajak/puisi sejak SMP, di mana karya-karyanya kini diabadikan secara independen oleh Tim Kreatif LKBK menjadi lagu-lagu bergenre Dangdut Klasik Modern 2026 di YouTube.
https://youtube.com/@radioaicahaya?si=Eq_kw-su5HGtFKDY
Namun, di balik jajaran karya publiknya tersebut, terdapat satu pencapaian hidup yang paling beliau dan keluarga banggakan. Halim Anwar sendiri adalah seorang lulusan SMA. Namun, keterbatasan latar belakang pendidikan formal tidak pernah membatasi visi dan impiannya untuk keluarga. Untuk menambah wawasan Ia juga mengikuti pendidikan non formal seperti Kursus Kehumasan dan Kursus Jurnalistik Jarak Jauh, dan berbagai seminar-seminar politik.

Melalui tetesan keringat dan hasil kerja kerasnya di dunia media massa, buah cinta Halim Anwar bersama istri tercinta, Ibu Herlita, telah berhasil mengantarkan 3 dari 4 putra-putri mereka menjadi Sarjana. Perjuangan ini menjadi teladan abadi bahwa kegigihan seorang ayah yang didukung oleh keharmonisan keluarga mampu menembus batas keterbatasan, demi menghadiahkan pendidikan terbaik bagi generasi penerusnya.***(ad/k65news).
Editor : HAR.
_______________
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS MENDAPATKAN IZIN TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”


