Mattopang Badik di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Ketapang

KETAPANG – Di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Ketapang, Kalimantan Barat, Jum’at, 1 Agustus 2025 malam, menjadi tempat pelaksanaan salah satu tradisi adat suku Bugis yang penuh makna, yaitu Mattopang Badik—prosesi penyucian pusaka badik yang merupakan simbol kehormatan, keberanian, dan kearifan leluhur.
Acara ini diselenggarakan Bupati Alexander Wilyo, S.STP.,M.Si sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya, sekaligus ungkapan kecintaannya terhadap adat dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
“Tradisi seperti Mattopang Badik bukan hanya seremoni simbolik, tetapi warisan spiritual dan budaya yang perlu dirawat, dihidupkan, dan diwariskan”, ungkap Alexander Wilyo.
Prosesi adat Mattopang Badik ini dipimpin secara langsung oleh Forum Komunikasi Orang Bugis (FKOB) Kabupaten Ketapang.
Hadir dalam acara tersebut antara lain ; Ketua Umum FKOB, Ketua DPW FKOB Provinsi Kalimantan Barat, serta Ketua DPD FKOB Kabupaten Ketapang terpilih, H. Daeng Jaidan.
“Kehadiran para tokoh ini menambah nilai kehormatan dan makna dari acara yang sakral ini”, tandas Alexander Wilyo.
Disampaikan Bupati Alexander Wilyo, bahwa dirinya merasa terhormat dapat berada di tengah-tengah keluarga besar Bugis.
“Sebagai seseorang yang juga memiliki keluarga dari suku Bugis, saya merasa bahwa saya bukan hanya hadir sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar Bugis di Kabupaten Ketapang ini”, ujar Alexander Wilyo.
Diakui Alexander Wilyo, bahwa sebagai bentuk penghormatan, dirinya lebih nyaman mengenakan badik, terutama dalam kegiatan pencak silat dan momen adat seperti ini.
“Kalau orang lain membawa keris, saya lebih memilih badik sebagai simbol jati diri dan penghargaan terhadap budaya. Dan insyaallah, besok saya akan mengenakan pakaian hitam dan badik, sebagai bentuk penghormatan terhadap acara dan semangat kebersamaan”, janji Alexander Wilyo.
Dalam rangka acara resmi pengukuhan pengurus DPD FKOB Kabupaten Ketapang yang akan digelar besok, Bupati Ketapang Alexander Wilyo juga turut mengundang Forkopimda, sejumlah kepala badan dan dinas, tim relawan, serta perwakilan dari berbagai ketua paguyuban etnis yang ada di Kabupaten Ketapang.
“Hal ini saya lakukan sebagai bentuk nyata bahwa Pendopo menjadi rumah bersama—tempat seluruh unsur budaya mendapat ruang yang setara dan penghargaan yang adil, tanpa membedakan latar belakang suku dan adat istiadat”, kata orang nomor satu dijajaran Pemerintah Kabupaten Ketapang ini.
“Saya percaya, bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dalam bentuk dokumentasi, tapi harus hadir dalam ruang hidup masyarakat. Saya berharap tradisi seperti Mattopang Badik ini dapat terus dilakukan di berbagai kampung dan komunitas, karena tradisi adalah jati diri, dan jati diri adalah kekuatan kita bersama”, tegasnya.
Acara ini ditutup dengan do’a dan prosesi penyucian pusaka badik yang dilakukan secara khidmat dan penuh penghormatan oleh para tetua adat.
“Malam ini menjadi bukti, bahwa Ketapang bukan hanya rumah bagi banyak suku, tetapi juga tanah yang subur untuk bertumbuhnya nilai-nilai luhur bangsa”, pungkas Bupati Alexander Wilyo.***(adv/k65news).
Editor : M.Fahrozi.
_______________
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS MENDAPAT IZIN TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”


