23 TAHUN LEMBAGA KANTOR BERITA KALIMANTAN (LKBK) 19 Desember 2002 - 19 Desember 2025 "MITRA ANDA MEMBANGUN NEGERI"

Kabar65News

Menembus Peradaban

Silaturahmi Kebangsaan di Pondok Hidayaturrahman, Merajut Persatuan Lintas Agama dan Etnis

KETAPANG – Suasana penuh kehangatan dan rasa persaudaraan menyelimuti Pondok Hidayaturrahman Kampus Desa Tanjungpura, tempat berlangsungnya Silaturahmi Kebangsaan bersama Bupati Ketapang, Minggu (10 Agustus 2025) malam.

Acara ini diinisiasi dan diawali oleh Rois Syuriah PCNU Kabupaten Ketapang, KH. Jemaie Makmur, sebagai bentuk komitmen memupuk persatuan bangsa dan merajut kesatuan NKRI.

Hadir dalam kesempatan ini para pemuka agama dan tokoh budaya lintas etnis, di antaranya Ketua MUI Kabupaten Ketapang Drs. KH. M. Faisol Machsum, Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi, Ketua Umum Persatuan Gereja Kristen Ketapang (PGKK) Pdt. Yance Abidano, Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) Ketapang Pandita Sudarso, serta tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Dalam sambutannya, Bupati Alexander Wilyo,S.STP.,M.Si menyampaikan rasa terima kasih atas inisiatif mulia ini. “Saling kenal di antara kita itu penting. Kadang sulit untuk bertemu, namun hari ini kita dipertemukan di rumah singgah ini dengan niat silaturahmi. Sekaligus saya ingin mengucapkan terima kasih karena Pilkada telah berlangsung aman, damai, dan tanpa gesekan”, ucap Alexander Wilyo.

Bupati Alexander Wilyo juga memohon doa dan dukungan dari seluruh alim ulama, para pemuka agama, dan masyarakat untuk bergotong royong membangun Ketapang.

“Saya membuka diri untuk mendengar langsung apa yang menjadi harapan dari para pemuka agama dan tokoh masyarakat”, katanya.

Pada pertemuan ini, Bupati Alexander Wilyo lebih banyak mendengarkan masukan. Pemuka agama pertama yang menyampaikan pandangan adalah Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi. Beliau menekankan pentingnya kegiatan ngopi yang dimaknai sebagai “ngobrol pintar”. Kegiatan ini rutin digelar setiap bulan oleh Keuskupan, dan pada 13 September mendatang akan kembali dilaksanakan. Beliau pun mengundang untuk hadir dalam ngopi tersebut, yang akan membahas berbagai harapan masyarakat terhadap pembangunan di Kabupaten Ketapang, mulai dari sektor pendidikan hingga perbaikan infrastruktur jalan.

Selain ngopi, Uskup juga mengajak pemerintah daerah, khususnya Bupati, untuk lebih sering ngeteh — yang dimaknainya sebagai “ngerumpi tekhnis”. Kegiatan ini, menurut beliau, penting untuk membicarakan secara mendalam pelaksanaan program pembangunan pemerintah, termasuk infrastruktur dan sektor strategis lainnya.

Sementara itu, masukan dan harapan dari Pendeta Yance Abidano menyoroti persoalan kelangkaan gas LPG. Menurutnya, meskipun tabung LPG bersubsidi diperuntukkan bagi masyarakat miskin, di lapangan tidak semua yang menggunakannya tergolong masyarakat miskin. Akibatnya, ketersediaan menjadi langka dan harga melonjak tinggi, bahkan di daerah pedalaman bisa mencapai Rp40.000 per tabung.

Pendeta Yance juga menyampaikan dukungan penuh kepada Bupati Ketapang untuk percepatan pembangunan infrastruktur jalan. Ia mencontohkan jalur strategis yang perlu diperhatikan, mulai dari Pelang–Puluk Batu Tajam, hingga jalan penghubung Tanjung Pura–Tanah Merah–Sumber Periangan dan seterusnya sampai ke Penjawaan.

Adapun masukan dari Pandita Sudarso menegaskan dukungan terhadap kepemimpinan Alexander Wilyo sebagai Bupati Ketapang yang mengusung visi pembangunan berkeadilan untuk Ketapang maju dan mandiri. Beliau juga memberikan perhatian khusus pada bidang pendidikan, khususnya kebutuhan penambahan guru agama Buddha. Saat ini, di Kabupaten Ketapang baru terdapat satu orang guru agama Buddha yang PNS, sehingga diharapkan pemerintah daerah dapat memperhatikan dan memperjuangkan hal ini demi pemerataan layanan pendidikan agama.

Momentum ini, ungkap Alexander Wilyo, dipandangnya sebagai awal yang baik. Ke depan, pertemuan akan digilir: dimulai dari rumah singgah, dilanjutkan di pendopo, lalu di kediaman pak Uskup, serta tokoh agama lainnya dari Hindu maupun Buddha.

Bupati Alexander Wilyo menegaskan, bahwa pentingnya hubungan baik antara pemerintah daerah dan para pemuka agama.

“Hal-hal baik dari pendahulu akan saya teruskan, dan yang kurang akan kita perbaiki bersama. Budaya, jati diri, identitas, dan harga diri kita sebagai bangsa akan kita jaga. Budaya tidaklah bertentangan dengan agama—justru keduanya dapat menyatu, saling menguatkan, dan menjadi landasan persatuan kita”, papar Alexander Wilyo.

Acara kemudian diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Ketapang, Drs. KH. M. Faisol Machsum, diikuti dengan pertukaran cenderamata, dan ditutup dengan makan malam bersama.

“Malam itu bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan hati—karena perbedaan yang dirajut dalam silaturahmi akan selalu melahirkan kekuatan untuk membangun bersama”, tutup Bupati Alexander Wilyo.***(adv/k65news).

Editor : M.Fahrozi.

_______________

“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS MENDAPAT IZIN TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *