Do’a Akashah Keliling Kota Ketapang, Wujud Pelestarian Adat, Kebudayaan, dan Kearifan Lokal Masyarakat Melayu

KETAPANG – Suasana khidmat dan penuh kebersamaan terasa di Pendopo Bupati Ketapang, Selasa (19/8/2025) sore, saat Bupati Ketapang, Kalimantan Barat, Alexander Wilyo, S.STP.,M.Si secara resmi melepas rombongan pembaca Do’a Akashah keliling kota. Pelepasan ditandai dengan pengibaran bendera kuning, sebagai simbol dimulainya perjalanan rombongan membawa do’a dan harapan keselamatan bagi masyarakat Kabupaten Ketapang.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Semarak Robo-Robo Mandi Safar 1447 H, diselenggarakan oleh Perkumpulan Lawang Kekayun (PLK) Kabupaten Ketapang bekerja sama dengan Kelurahan Kauman. Kegiatan ini menjadi wujud nyata pelestarian adat, kebudayaan, dan kearifan lokal masyarakat Melayu Kabupaten Ketapang agar terus hidup dan diwariskan lintas generasi.

Berbagai tokoh masyarakat, pejabat daerah, unsur TNI-Polri, hingga organisasi kemasyarakatan hadir memeriahkan acara pelepasan ini. Nuansa tradisi Melayu tampak begitu kental dengan pakaian adat yang dikenakan para peserta, menambah semarak suasana.

Dalam sambutan nya, Bupati Alexander Wilyo menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif PLK dalam menjaga tradisi Do’a Akashah. Bupati Alexander Wilyo menegaskan pentingnya melestarikan kearifan lokal sebagai identitas daerah, serta mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan do’a demi keselamatan dan keberkahan Kabupaten Ketapang.
Sebagai simbol pelepasan, Bupati Alexander Wilyo juga menyerahkan Daun Andung Berajah Salamun Tujuh kepada penyelenggara.

Usai pelepasan, rombongan Do’a Akashah berangkat menyusuri sejumlah titik penting di kota Ketapang, mulai dari Pendopo Bupati, Jl. KH. Agus Salim, Bundaran Ale-Ale, Jembatan Pawan 1, Kinjil Pesisir, hingga Makam Keramat Tujuh, sebelum kembali ke Pendopo. Perjalanan ini menjadi simbol do’a dan harapan yang menyatu dengan kebersamaan masyarakat.

Tradisi Do’a Akashah keliling kota diharapkan tidak hanya membawa keberkahan dan keselamatan, tetapi juga mempererat silaturahmi serta menumbuhkan rasa cinta terhadap adat, kebudayaan, dan kearifan lokal Melayu. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan hanya harus dijaga, melainkan juga dirayakan bersama.

Selain Do’a Akashah, rangkaian Semarak Robo-Robo Mandi Safar tahun ini juga menghadirkan Malam Pagelaran Seni Budaya Warisan Melayu serta puncak acara Robo-Robo & Mandi Safar pada 19–20 Agustus 2025, yang akan semakin meneguhkan semangat kebersamaan masyarakat Ketapang.***(adv/k65news).
Editor : Bang Liem.
_______________
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS MENDAPAT IZIN TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”


