Robok-Robok dan Mandi Safar, Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Ketapang

KETAPANG – Dengan suasana sejuk pagi hari yang tenang setelah hujan semalam, masyarakat Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali menggelar tradisi budaya Robok-Robok dan Mandi Safar, Rabu (20/08/2025) bertepatan dengan 26 Safar 1447 H.

Kegiatan yang dipusatkan di tepian Sungai Pawan, tepatnya di Jl. KH. Ahmad Dahlan RT.007 RW.003 Kelurahan Kauman, Kecamatan Benua Kayong ini berlangsung sejak pukul 07.30 WIB hingga selesai, dan terbuka bagi seluruh masyarakat.
Rangkaian pra acara dimulai dengan penyambutan melalui tabuhan Gendang Tar-Hadhrah. Setelah transit ramah tamah di kediaman tokoh masyarakat, rombongan berjalan menuju lokasi utama dengan iringan prosesi tabuh hadrah, pencak silat Kutemare, serta taburan beras kuning. Kehadiran Bupati Alexander Wilyo, S.STP.,M.Si bersama istri Ibu Dewi Nurjana Alexander Wilyo dan rombongan kemudian disambut hangat oleh Tarian Melayu yang mengiringi langkah menuju tempat acara.

Prosesi inti dibuka dengan pembacaan do’a, sambutan dari penyelenggara, Lurah Kelurahan Kauman, serta tokoh masyarakat. Nuansa kebersamaan semakin terasa dengan hiburan musik gambus yang memeriahkan suasana. Dalam kesempatan itu, Bupati Alexander Wilyo menyampaikan sambutan sekaligus menyerahkan santunan dan hadiah kepada masyarakat, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama.
Puncak acara ditandai dengan prosesi Mandi Safar. Dalam ritual penuh makna ini, Bupati Alexander Wilyo ikut serta memandikan sejumlah anak dengan air do’a sebagai simbol pembersihan diri, tolak bala, serta permohonan keselamatan. Ritual tersebut kemudian diteruskan oleh tokoh masyarakat dan tokoh agama, dan diakhiri dengan sesi foto bersama di lokasi pemandian.

Yang penting juga dalam Robok-robok yaitu jamuan makanan khas Ketapang Ketupat Colet yang menjadi sajian utama penuh makna kebersamaa.
Tradisi Robok-Robok dan Mandi Safar merupakan jejak kearifan lokal yang tetap hidup di tengah masyarakat Ketapang. Di dalamnya terkandung do’a-do’a keselamatan, nilai kebersamaan, serta semangat menjaga warisan leluhur yang telah turun-temurun.

Bupati Alexander Wilyo memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terlaksananya kegiatan ini. Kelurahan Kauman patut berbangga karena masih teguh mempertahankan budaya aslinya yang menjadi perekat dan pemersatu masyarakat. Ke depan, kegiatan ini telah ditetapkan sebagai agenda resmi dalam kalender kebudayaan Kabupaten Ketapang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Dengan dukungan seluruh masyarakat, tradisi Robok-Robok dan Mandi Safar bukan hanya sebatas ritual tahunan, melainkan bagian penting dalam memperkuat jati diri dan persatuan masyarakat Kabupaten Ketapang.
Tak lupa dalam acara itu Bupati Alexander Wilyo berpantun:
- BUAH SRIKAYE NYAMAN DIMAKAN.
- DAUNNYE LEBAT HIJAU BERSEMI.
- ADAT BUDAYE JANGAN DITINGGALKAN.
- UNTUK MEMPERERAT TALI SILATURRAHMI.
- POKOK SRIKAYE BELAKANG ISTANE.
- TEMPAT PRAJURIT MENJEMUR BAJU.
- MELALUI ADAT BUDAYE YANG TERLAKSANE.
- SEMOGE DAPAT MENINGKATKAN NILAI-NILAI GOTONG ROYONG UNTUK PEMBANGUNAN YANG BERKEADILAN DEMI KETAPANG MAJU.
- BERBUAH LEBAT POKOK PEPAYE.
- JATUK SEBUTIK TANGKAINYE BUSUK.
- ROBO’-ROBO’ MENJADI ADAT BUDAYE.
- JADI PENINGGALAN TUK ANAK CUCUK.***(adv/k65news).
Editor : Bang Liem.
_______________
“MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI PORTAL INI HARUS MENDAPAT IZIN TERTULIS DARI REDAKSI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG”


